Mengenal Nama-nama Stasiun Rangkasbitung-Labuan
Mengenal Nama-nama Stasiun Rangkasbitung-Labuan
Sebuah kereta uap terlihat di ujung stasiun Labuan tahun 1970 silam

Mengenal Nama-nama Stasiun Rangkasbitung-Labuan

Redaksi
Jumat, 05 Oktober 2018 - 11:20:36 WIB
0 | Kategori: Ekonomi |Dibaca: 27

RESONANSI.id - 350 tahun lebih Belanda menguasai dan menjajah Indonesia. Hingga saat ini masih banyak peninggalan yang masih bisa kita saksikan menjadi saksi bisu betapa kuatnya Belanda bercokol d tanah air. Di bidang transportasi misalya, Staatsspoorwegen (SS) hingga kini dikenang oleh Bangsa Indonesia khususnya masyarakat Pandeglang sebagai perusahaan transportasi raksasa Belanda yang menyediakan kereta uap Labuan-Rangkasbitung-Jakarta.

Pada perkembangannya, Staatsspoorwegen (SS) juga merupakan salah satu perusahaan Belanda yang diserahterimakan  menjadi Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI), pendahulu PT Kereta Api Indonesia. Pesaingnya adalah Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappijini.

Belakangan ini, jalur eks perusahaan Staatsspoorwegen Labuan-Rangkasbitung dikabarkan akan kembali diaktifkan. Namun jangan membayangkan kereta yang akan melintas nanti beruap dan membuat lubang hidung hitam. Soalnya Kementria Perhubungan mewacanakan menggunakan kereta yang lebih modern yakni kereta rel listrik (KRL) untuk melayani penumpang dari dan menuju Labuan. Reaktivasi rel KA Labuan-Rangkasbitung ini digadang-gadangbisa menjadi solusi untuk mendorong laju perekonomian masyarakat di Banten Selatan.

Setidaknya wacana ini dibenarkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pandeglang yang salah satu bidangnya mengurus dan menginventarisir cagar budaya termasuk rel dan stasiun kereta api yang pernah aktif di wilayah Kabupaten Pandeglang. “Dalam waktu dekat arkeolog dan tim ahli akan datang untuk melakukan penelitian tentang jalur KA yang pernah aktif di Kabupaten Pandeglang. Kami belum tahu tujuan penelitian itu namun ada kabar ini adalah bagian dari rencana pengaktifkan kembali jalur KA ke Labuan,” demikian kata Kepala Bidang Budaya Disbudpar Pandeglang E Wiraatmaja, belum lama ini.

Terlepas dari wacana di atas, keberadaan jalur KA dengan stasiun terakhir di Kecamatan Labuan punya sejarah yang cukup menarik dan menjadi saksi dinamika masyarakat Pandeglang umumnya Banten. Jalur KA Labuan dikenal sebagai rel paling ujung di Pulau Jawa paling barat. Pada Tahun 1984  di stasiun Labuan masih banyak anak kecil bermain-main diatas gerbong kereta atau membuat mainan pedang dari paku yang dilindas oleh kereta api yang sedang lewat.

Dilansir dari beberepa sumber, Stasiun Labuan memiliki kode LBN. Stasiun ini dahulu merupakan stasiun paling ujung di jalur kereta api Rangkasbitung-Labuan dibangun pada tahun 1906 oleh Staatsspoorwegen (SS) salah satu dari berberapa perusahaan kereta api pada jaman Hindia Belanda. Pada tahun 1945, stasiun ini diambil alih oleh Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI), perusahaan kereta api yang dibentuk oleh pemerintah Republik Indonesia. Stasiun ini berhenti beroperasi pada tahun 1982 karena kalah bersaing dengan moda transportasi lainnya seperti bus.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pandeglang mencatat ada 14 stasiun KA yang pernah ramai di Pandeglang pada zamannya yakni Stasiun Pandeglang kode PDG, Stasiun Cibiuk Kecamatan Banjar kode CBI,  Stasiun Cimenyan kode CMY, Stasiun Kadukacang Kecamatan Cipeucang kode KDK, Stasiun Sekong Kecamatan Saketi kode SE, Stasiun Cipeucang Kecamatan Cipeucang kode CPG, Stasiun Cikaduwen Kecamatan Saketi kode CWN, Stasiun Saketi kode STI, Stasiun Sodong Kecamatan Saketi kode SOG, Stasiun Kenanga Kecamatan Menes kode KNA, Stasiun Menes kode MNS, Stasiun Babakanlor Kecamatan Cikedal kode BBR, Stasiun Kalumpang kode KAL, terakhir Stasiun Labuan  kode LBN.

Setelah KA resmi tidak aktif, kini bekas stasiun utama dan halte kebanyakan telah berubah fungi menjadi perumahan, gudang, dan pasar. Rel kereta dan besi jembatan KA juga rata-rata sudah hilang dan dimanfaatkan masyarakat. Namun demikian, masih ada beberapa bangunan jembatan yang utuh dan disulap warga untuk jembatan penyebarangan misalnya di kecamatan Saketi.



Penulis: Redaksi

0 Komentar


Komentar


Komentar via facebook