Kam. Okt 17th, 2019

resonansi.id

News and Life Style

Air Terjun Bertingkat Desa Ramea Mirip di Negeri Kayangan

2 min read

RESONANSI.id – Anda yang suka traveling saat liburan, tidak ada salahnya jika mengunjungi objek wisata air terjun bertingkat di Desa Ramea Kecamatan Mandalawangi Kabupaten Pandeglang. Destinasi wisata alami ini bakal membuat decak kagum bagi siapa saja yang melihatnya. Sebelum memasuki kawasan air terjun anda juga dapat menikmati bentang pesawahan yang dikelilingi bukit serta pegunungan saat melintas dijalan raya tersebut.

Bentang Alam Desa Ramea
Spot Selfi dengan Backgound Pesawahan

Desa Ramea yang merupakan destinasi wisata alam yang didalamnya terdapat beberapa air terjun,  suasananya sejuk,  dan tentunya spot selfie yang bakal pengunjung terhipnotis betah berlama-lama di situ.

“Jauh dari hiruk pikuk perkotaan menjadi alasan tepat berkunjung di tempat ini. Desa yang sejuk dan asri, akan membawa wisatawan menikmati alam pedesaan dan air terjun yang indah,” kata Aa Saepullah salah satu pengunjung saat ditanya Resonansi.id, Minggu (28/07/2019).

Paling asyik juga saat mandi dibawah kucuran air terjun yang berundak dengan ketinggian sekitar 10 meter dan luas kolam sekitar 20 meter memanjang . Tentunya juga masih dalam wilayah air terjun tersebut.

Sisi Atas Curug Tomo

“Wisatawan bisa mencoba mandi dibeberapa air terjun dengan kedalaman kolam yang berbeda beda, diatasnya terdapat jembatan bambu yang menghubungkan jalan dan akan tembus ke air terjun berikutnya, banyak spot selfie dengan kucuran air terjun,” katanya.

Lebih asyiknya lagi, selepas mandi, banyak dijumpai warung warung jajanan seperti mie rebus, kopi, gorengan serta makanan tradisional lainnya.

“Pokoknya mantap makan mie rebus abis ngojay, ini yang membuat saya puas berada disini,” jelasnya.

Air terjun dibagian atas Curug Tomo
Pengunjung saat menikmati keindahan Curug Tomo

Menurut Bapak Saleh salah satu pengelola objek wisata mengungkapkan, Desa Ramea mempunyai beberapa tempat destinasi wisata air terjun dan tempat mandi lainnya bahkan ada dua spot (Air Terjun) lain yang belum dibuka dan dijadikan tempat wisata.

“Kalau yang sudah ramai dikunjungi, Leuwi Bumi dan Curug Tomo, Tapi ada dua curug lagi yang belum dibuka untuk wisata,” Tuturnya.

Saleh menegaskan jika pengelolaan wisata itu sangat sulit dan tidak bisa sekaligus menjadi ramai, hal ini dikarenakan perlu adanya penunjang lain diantaranya yaitu infrastruktur jalan serta dukungan dari pemerintah desa setempat.

“Saya sudah tiga tahun mengelola objek wisata ini, tapi yah…segini-gini saja, kami bertiga bersama kawan lain sedikit-sedikit membenahi dan membangun dengan modal sendiri beberapa fasilitas yang ada disini, dan alhamdulillah sedikit lebih rapi,” Pungkasnya. (Als/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kategori