Jum. Mar 22nd, 2019

Catatan si Anak Rimba: Legon Pakis & Cikawung Girang Tanpa Listrik, Dibayangi Ular Hitam

20 kilo meter dari Ibu Kota Jakarta, Desa Ujung Jaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang menyimpan berbagai cerita dan terselip kisah, tentang semangat warga yang berjuang mempertahankan hak-haknya. Hak atas tanah, hak atas pendidikan, hak atas kesehatan, hak untuk kehidupan yang layak. Sebagian besar dari warganya pun masih bertarung untuk mendapatkan itu semua.

Kampung Legon Pakis adalah salah satu kampung di Desa Ujung Jaya. Hingga kini, warga Legon Pakis belum merasakan aliran listrik kecuali Pak Kadir, seorang juragan kopra yang memiliki penerangan listrik dari mesin desel yang dibelinya. Minggu ini, Kamsah putri Kadir akan dinikahkan. Tentu pernikahan ini akan ramai. Seluruh warga kampung akan datang ke rumah Pak Kadir yang penuh cahaya. Bahkan orang dari luar kecamatan turut diundang.

Namun, dibalik kemeriahan pesta perkawinan anak Pak Kadir, Legon Pakis saat ini tengah dirundung kesedihan. Sudah tiga orang mati karena sakit panas dan liver. Di kampung ini tak ada layanan kesehatan. Warga masih mempercayakan pengobatan pada dukun ataupun mantri. Saat ini, seorang warga masih bertahan dalam kesakitannya. Perutnya membesar, tubuhnya melayu. Dukun dan mantri pun sudah angkat tangan dengan derita warga ini. Warga ini terpaksa dilarikan ke rumah sakit di ibukota provinsi. Teknologi modern RSUD Banten memang membantu si sakit mengempiskan perutnya yang membusung. Sekali sedot, mampu mangambil sepuluh liter air dari tubuh. Perut mengempis, tapi tak berapa lama. Sedang untuk penggunaan peralatan kesehatan membutuhkan biaya besar. Di kampung, desas-desus tak bisa dibendung. “Ini hasil guna-guna”—kata warga kampung.

Cikawung Girang, jaraknya sekitar sepuluh kilometer dari Legon Pakis bisa ditempuh menggunakan kendaraan roda dua. Lebih cepat menembus hutan dengan jalan kaki. Risikonya ular hitam. Jika terpatuk, tubuh hanya akan bertahan dalam bilangan jam. Carik Udin, menceritakan beberapa pengalaman. Ada yang selamat dari patukan “si bulat hitam”, itupun dengan merelakan sebelah tangan. Ular hitam, menurut orang-orang adalah ular yang sangat mematikan. Semakin dewasa ia, semakin memendek ukuran tubuhnya—semakin keras bisa-nya.

Di Cikawung Girang, seluruh masyarakat bermasalah dengan pengelola Taman Nasional Ujug Kulon (TNUK). Hutan yang menjadi tapal batas wilayah masyarakat dengan balai, dimajukan secara sepihak sampai memasuki lahan garapan warga. Kang Rohman, kepala rukun tetangga tak tinggal diam. Tahun lalu ia datang ke Jakarta, meminta solidaritas perjuangan. Rohman harus menembus lima jam jarak Ujung Kulon-Pandeglang, dilanjutkan tiga jam Pandeglang-Jakarta. Ia tak tahan naik mobil, apalagi yang ber-AC. Tetapi ia meneguhkan, derita yang ia rasakan tak berbanding dengan derita yang ditimbulkan dari hegemoni kekuasaan. Hutan diperluas, menggusur lahan garapan dan pemukiman warga. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *