Digaji Rp 175.000 Per Bulan, Guru SMPN Munjul Ini Nyambi Jadi Sopir Barang

SENIN 19 November 2018 saat waktu masih menujukkan pukul 05.00 WIB, Sahra (35) warga Desa/Kecamatan Pulosari sudah tampak rapi dengan stelan baju warna kaki. Ia bergegas mengeluarkan sepeda motor dari ruang tamu rumah mungilnya. “Hari ini saya harus lebih pagi berangkat ke sekolah karena ada upacara,” kata Sahra kepada resonansi.id yang sengaja mengikuti aktivitas guru honorer di salah satu SMPN di Kecamatan Munjul ini untuk lebih dalam mengetahui kesehariannya, akhir pekan kemarin.

Setelah pamit kepada istrinya, Sahra mencium kening dua anaknya yang masih terbuai mimpi. Tampak raut kesediahan diwajah Sahra karena saat anaknya masih tertidur, ia harus bergegas menemui anak didiknya yang memiliki beragam harapan.

Perjalanan Sahra menuju sekolah bisa dikatakan penuh risiko karena jarak sekolah dari rumahnya kurang lebih 40 KM dengan waktu tempuh kurang lebih 2,5 jam. Selain itu memasuki bulan Oktober biasanya sudah memasuki musim penghujan sehingga mebuat Sahra harus ekstra hati-hati berkendara dengan melintasi genangan air dijalanan dan menembus tirai hujan yang berhawa dingin. “Kalau musim hujan seperti ini suka malas pergi. Tapi bagaimana lagi ini sudah jadi tanggungjawab saya. Kasihan anak-anak saya (siswa) pasti mereka mencari-cari kalau saya tidak masuk. Saya juga punya perasaan berdosa kalau tidak ke sekolah,” jelasnya.

Tiba disekolah pukul 07.00 WIB, Sahra sudah disambut sejumlah siswa yang menampakkan sikap gembira karena gurunya telah tiba. Walau statusnya honorer, tidak ada perbedaan yang mencolok dengan guru PNS di sekolah ini baik dari segi penampilan atau sikap. Konon, di tempatnya mengajar, guru dengan status PNS bisa dihitung dengan jari.

Sahra bercerita bahwa saat ia masih menyusun skripsi, pihak sekolah sudah memintanya untuk mengabdi di SMPN Munjul sebagai guru. Permintaan ini muncul lantaran guru setempat keteteran dengan mininya tenaga pengajar terutama guru yang membidangi pelajaran Matematika.

“Permintaan dari pihak sekolah tidak bisa saya tolak karena saya kasihan juga kalau di SMP ini tidak ada guru matematika. Makanya saya putuskan siap waktu itu. Alhamdulillah bertahan sampai sekarang,” jelasnya.

Soal penghasilan atau gaji dari profesi guru yang diteknuninya selama ini, Sahra tampak enggan menjawab. “Ah, itu sudah menjadi rahasia umum bagaimana gaji honorer di Kabupaten Pandeglang,” ucapnya sambil memalingkan mukanya menatap dinding sekolah yang menurutnya terkadang seperti benteng yang kaku.

Namun demikian akhirnya Sahra mau membocorkan upah yang diterimanya setiap bulan dari sekolah tempatnya mengabdikan diri. “Per bulan dapat Rp 175 ribu,” Sahra menunduk.

Sekadar informasi, honor untuk para guru honorer tingkat SD dan SLTP di Pandeglang dimbil dari anggaran masing-masing sekolah yang berada dalam nauangan Dinas Pendidikan Pandeglang. Sementara gaji untuk guru honor tingkat SLTA di Pandeglang setahun terakhir ini sudah hampir seperti Upah Minimum Kabupaten (UMK) yakni Rp 2,5 juta karena pengelolaannya berada di Dinas Pendidikan Provinsi Banten.

Walaupun pengasilan yang diterima dari insentif pengabdiannya jauh sekali dengan kebutuhan hidup seperti biaya menyekolahkan 2 orang anaknya yang saat ini masih sekolah TK dan SD, Sahra tetap bersemangat mengajar.

Untuk menambal kebutuhan ekonominya, guru matematika ini harus memutar otak. Gayung pun bersambut, keahliannya membawa kendaraan ditambah banyaknya hasil bumi yang perlu diangkut ke pasar-pasar induk Ibu Kota memberikan usaha sampingan bagi Sahra sebagi kuli angkut barang. Keputusannya untuk usaha sampingan menjadi sopir ini telah dijalaninya 5 tahun terakhir ini.

 Sejak itu, guru ramah senyum ini memiliki dua kesibukan. Pagi hingga sore menjadi guru, sementara petang hingga malam menangkut hasil bumi. “Hanya untuk kerja sambilan. Pekerjaan utama tetap sebagai guru. Untuk menambah penghasilan. Karena guru honorer gajinya sangat kecil,” katanya.

Berapa penghasilan sebagai sopir angkutan barang? Sahra mengungkapkan, selama menjadi sopir ia tidak neko-neko dan hanya menargetkan pendapatan Rp 50 ribu per hari. Sehingga jika dirata-rata, guru matematika ini mendapatkan pemasukan tambahan Rp 1,5 juta per bulan. Penghasikan alternatif tersebut sangat membantu agar dapurnya tetap ngebul.

“Kalau dirata-rata sebulan bisa mencapai Rp 1,5 juta. Tapi kadang saat tidak ada order penghasilan nyusut juga. Namun yang pasti ini sangat membantu ekonomi keluarga saya,” jelasnya.

Suami dari anak tokoh masyarakat di Pulosari ini mengakui, kesejahteraan guru honorer di Pandeglang masih terpuruk. Ibarat api yang jauh dari panggang. Tentu saja, hal itu tidak berbanding lurus dengan jasa guru yang mengajari murid hingga menjadi pandai. Bahkan lebih ironis, gaji guru honorer jauh di bawah penghasilan buruh pabrik.

Oleh sebab itu, tepat peringatan Hari Guru Nasional yang jatuh pada 25 November ini, Sahra berharap pemerintah memberikan perhatian lebih. Yakni dengan meningkatkan kesejahteraan pahlawan tanpa tanda jasa tersebut.

“Kami berharap gaji guru honorer sesuai dengan UMK (upah minimum kabupaten). Kalau di Pandeglang ya sekitar Rp 2,3 juta. Karena selama ini gaji kami sangat minim,” Sahra mengakhiri bercerita soal keseharainnay sebagai guru dan sopir angkutan barang. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *