Rab. Jul 17th, 2019

Disuntik Modal dari APBD Hingga Rp 5 Milyar, PD PBM Masih Rugi

RESONANSI.ID – Komisi II DPRD Kabupaten Pandeglang melontarkan sejumlah pertanyaan kepada Direktur PD Pandeglang Berkah Maju (PBM), Enjum Jumhana terkait master plan, bisnis plan hingga pertanggungjawaban penggunaan penyertaan modal daerah (PMD) ke lembaga usaha plat merah ini.

“Bagaimana bapak (Enjum Jumhana, red) menterjemahkan perda dan perbup terkait PD PBM dalam melaksanakan master plan dan bisnis plan. Seharusnya bapak memahami perda dan perbupnya. Jika bapak sudah memahami itu nanti kan akan tahu master plan dan diturunkan menjadi bussines plan,” kata Ketua Komisi II, Rika Kartikasari saat memimpin rapat dengar pendapat dengan Direksi PD PBM di Ruang Komisi II DPRD Pandeglang, Rabu (19/6/2019) siang.

Politisi Gerindra ini juga mempertanyakan pelaksanaan bisnis PD PBM yang dinilainya belum begitu jelas bidang usaha, tujuan, dan upaya berkontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD). Selain itu Rika mwnyebut selama ini dari sekian banyak penyertaan moodal yang digelontorkan Pemkab Pandeglang dari APBD ke PD PBM laporannya selalu rugi.

“Penyertaan modal tahun lau saja Rp 4 miliar tidak jelas. Padahal jika dibangunkan paving block ke wilayah selatan akan memberikan manfaat besar kepada masyarakat,” sambung Rika.
Menurut Rika, konsep bisnis PD PBM sejak awal tidak begitu jelas. Pada kepengurusan pertama akan bekerjasama dengan perusahaan dari Korea dan lainnya. Namun pada pelaksanaanya tidak jelas. Bahkan pada kepengurusan baru, di awal bisnis jual beli jagung yang pada akhirnya pun jelas. Saat ini beralih dengan bisnis menjual beras kepada Aparatur Sipil Negara (ASN).

“Ini bisnisnya berubah-berubah, ngikutin yang lagi hits. Orang ramai jual ini, PBM ikutan. PBM harus punya ciri khas dan tidak menyaingi atau bermain di usaha yang sudah dilakukan pengusaha kecil. Kemarin jualan jagung terus pindah ke beras, jual beras ke ASN dan tiba-tiba dipotong gajinya untuk beras,” ujar Rika.

Selain lontaran pernyataan di atas, Komisi II memberikan sejumlah catatan kepada PD PBM untuk tahun ini dan tahun berikutnya ada realisasi program kerja yang sudah dilaksanakan baru kemudian akan dibahas PMD. Pihkanya juga masih melihat perkembangan usaha PD PBM, apakah ke depan akan sehat atau malah keberadaannya merugikan daerah.

“Saya melihat program kerjanya ini terlalu banyak dan tidak fokus pada satu bidang usaha. Sekarang kan sudah terlihat, katanya ikut tender pertanian dan lainnya. Kalau bisa jangan ikut ke ranah-ranah yang sudah ada orang lain di bidang situ. Kita ini mereka punya kekhasan yang orang lain ga punya, jangan ikut-ikutan,” pungkas Rika usai memimpin rapat dengar pendapat.

Anggota Komisi II, Dadi Rajadi menyarankan, PD PBM untuk fokus pada satu kegiatan bisnis agar ada satu ikon bisnis yang jelas dan bermanfaat bagi masyarakat. Hal tersebut tentu tidak menghambat PD PBM untuk melaksanakan kegiatan bisnis lain, namun tetap harus fokus pada satu bidang bisnis.

“BUMD bisa menjadi penyalur barang-barang bersubsidi seperti gas elpiji dan BUMDes menjadi kepanjangan tangan PD PBM dalam menjalankan bisnisnya. Jadi PD PBM bisa membantu masyarakat, di mana masyarakat menjerit karena harus beli gas elpiji Rp 30.000,” kata Dadi.

Direktur PD PBM, Enjum Jumhana mengatakan, sebagai penerus ia dan pengurus baru PD PBM mulai efektif Agustus 2018. Kata dia, program kerja 2018 merupakan hasil perencanaan program tahun sebelumnya dan kepengurusan yang baru hanya meneruskan program tersebut.

“Kenapa bisnis plan belum? Kami klasifikasikan dengan rencana jangka pendek, menengah, dan panjang,” kata dia.

Kata Enjum pihaknya sudah membuat perubahan rencana kerja yang dilakukan oleh direktur sebelumnya. Namun tentu tidak melepas semua rencana kerja, misal pada trading pertanian dan perdagangan.

“Walaupun ada sedikit PKS dari Dinas Pertanian untuk distribusi kacang kedelai, itu merupakan bagian dari kegiatan tahun lalu. Terus dari pariwisata ada jasanya di bidang perdanya. Namun tahun 2019 Insya Allah dengan adanya bantuan dari semua pihak bisa berjalan,” sambungnya.

Ditanya soal laba perusahaan, Enjum mengaku, hingga saat ini PD PBM masih dalam kondisi rugi. Kondisi tersebut menurutnya yang masih harus perlu ditata, karena modal yang disertakan juga cukup banyak.

“Sebelumnya (PMD, red) Rp 3 miliar sekian. Dengan adanya saya ke sini Alhamdulillah bisa bertambah Rp 2,4 miliar, sehingga sampai modal akhir bulan Desember itu Rp 5 miliar. Namun aset yang kita miliki Rp 4 miliar, itu tergerus, oleh apa? Oleh piutang. Laporan kami sehat juga dan wajar dalam pembukuan,” pungkas Enjum.(Yul/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *