Efektivitas Pelaksanaan Pembelajaran Daring Pada Siswa SMA

foto ilustrasi

Oleh : Ayu Amalia, Mahasiswa Program Studi Administrasi Publik-FISIP Untirta

Virus corona atau dalam bahasa ilmiah  Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-Cov-2) telah melanda hampir seluruh negara di Dunia dan merupakan pandemic yang artinya menyebarkan penyakit dari orang ke orang secara pesat.  Kemunculan virus ini pertama kali ditemukan di wuhan, cina pada akhir tahun 2019 dengan menyerang peradangan tenggorokan sehingga menimbulkan kesulitan dalam pernafasan bahkan menimbulkan kematian. Persebaran virus ini sangat cepat, membuat banyak negara terkena virus jenis ini, termasuk Indonesia.

Persebaran virus covid-19 semakin meningkat membuat pemerintah Indonesia melakukan berbagai upaya untuk menangani virus tersebut.  Dalam mengurangi persebaran covid-19 pemerintah memberlakukan Work From Home (WFH) bagi ASN serta mengalihkan pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran online (Daring) ditingkat TK sampai tingkat mahasiswa.

Begitu pula dengan sekolah SMA Citra Islami di Kabupaten Tangerang menerapkan belajar daring serta menerapkan kebijakan yang tertuang dalam Surat Edaran yang tertuang dalam Nomor :440/1211/-Disdik/III/2020 tertanggal 26 maret 2020 berlaku untuk semua sekolah yang ada di Kabupaten Tangerang.

Sistem pembelajaran daring  dilaksanakan melalui smartphone atau laptop dengan   aplikasi google meet/ via zoom yang telah disediakan oleh pihak sekolah serta menggunakan aplikasi whatsaap untuk saling berkomunikasi dan memberi materi kepada siswa. Selain itu, pembelajaran didapatkan juga dari media internet atau websiste, serta ruang belajar seperti ruang guru. Menurut penelitian yang telah dilakukan melalui metode kuantitatif bahwa pelaksanaan pembelajaran daring di sekolah SMA Citra Islami sudah dikatakan efektif dengan perolehan nilai sebesar 66% yang diambil dari aspek pelaksanaan daring, kesiapan dan keaktifan serta fasilitas atau sarana yang dimiliki siswa saat belajar daring.

Namun, masih terdapat hambatan dan permasalahan seperti pemahaman terhadap materi yang disampaikan oleh guru masih kurang dan cenderung siswa merasa bosan saat belajar daring,  kegiatan KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) yang lebih cepat selesai  dibanding dengan belajar secara tatap muka seperti biasanya.

Untuk sarana atau fasilitas berupa smartphone atau laptop, mayoritas siswa telah memilikinya sehingga tidak ada kendala apabila tidak mengikuti kelas daring. Selain smartphone atau laptop, jaringan internet juga menjadi point penting  agar proses belajar mengajar berjalan lancar, namun masih ditemukan kendala internet yang lemot dan jaringan tidak stabil membuat kegiatan belajar terganggu.

Paket kuota sering kali menjadi beban bagi siswa khususnya orang tua karena biaya yang dikeluarkan untuk membeli paket kuota tidak sedikit, serta penggunaan menggunakan goole meet/ via zoom yang cepat boros dan cepat habis untuk belajar daring. Sehingga menjadi perhatian bagi pemerintah.  Pemerintahpun memberikan bantuan paket kuota kepada siswa di tingkat SD sampai SMA sebesar 42 GB hal ini untuk memberikan keringanan  dalam melaksanakan belajar daring. Namun distribusi pembagian kuota tersebut belum seluruhnya merata, karena masih banyak ditemukan siswa yang belum mendapatkan bantuan kuota hingga saat ini.

Maka dari itu, kesuksesan pembelajaran daring selama pandemic covid-19 ini bergantung kepada semua pihak. Baik dari pihak guru/ sekolah terkait kesiapan dan strategi dalam menyampaiakan materi dan lebih komunikatif , peran orang tua untuk melakukan pemantauan kepada anak. Serta peran pemerintah untuk memberikan kebijakan terkait pelaksaan daring. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here