Istidraj

Oleh: Fawaid Abdullah*

Apa itu Istidraj? Gambaran istidraj itu mudahnya seperti ini; kalau ada seseorang yang selalu dapat nikmat Allah tiada henti-hentinya, hari ini dapat uang dengan nominal fantastis menurut ukurannya, besok dapat lagi nikmat yang lain, lusa dapat lagi, besoknya lagi dapat lagi, begitu seterusnya. Ia selalu dapat apa saja yang ia inginkan dengan gampang dan mudah, tanpa bersusah-susah. Berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun ia begitu mudahnya mendapatkan segala apa yang ia inginkan. Bagaikan membalikkan telapak tangannya. Harta ia kumpulkan dengan tanpa terlalu berkeringat. Hasilnya pun fantastis, dan bikin orang lain berdecak kagum bukan main. Melimpah ruah.

Tapi, semua yang ia lakukan dari hasil mendapatkan harta atau rizki nikmat Allah itu, ia lakukan dengan cara yang tidak baik, dengan cara yang tidak halal, dengan cara zalim, bahkan dengan cara membuat orang lain tersakiti akibat ulah orang itu. Bahkan, kalau dia seorang muslim, ibadahnya ia tinggalkan, shalatnya ia abaikan, amal salehnya tiada dilakukan, setiap hari, setiap minggu, setiap tahun bertahun-tahun ia hanya sibuk dengan bagaimana mengeruk harta dan dunianya.

Keadaan seperti inilah yang harus berhati-hati. Karena, Allah akan perlahan-lahan namun pasti, akan mengambilnya (harta) kembali atau bahkan bisa jadi Allah ambil milik-Nya itu sekaligus dengan cara yang Allah Kehendaki. Efeknya ini dinamakan istidraj, sedangkan orang atau pelakunya dinamakan mustadrij.

Jadi tidak usah kaget dan heran, kalau ada orang misalnya kaya mendadak, lalu pada saat yang lain tiba-tiba jatuh dan bangkrut bahkan miskin mendadak. Semua nikmat yang asal mulanya Allah kasih dengan mudahnya dengan cara yang tidak baik dan tidak halal, lalu ia jatuh (miskin) mendadak bahkan lebih parah dari sebelumnya. Itulah cara Allah, mengingatkan hamba-Nya.

Hadist dari Abdullah ibn Mas’ud r.a. :

كم من مستدرج أي مأخوذ قليلاً قليلاً (بالنعمة) بإكثارها عليه.. الى آخره

Begitu pula. Berapa banyak ada orang yang diuji dengan bala’. Ia banyak dipuji dan dielu-elukan banyak manusia. Ia terlena dengan pujian-pujian manusia pada umumnya. Bahkan berapa banyak manusia ada yang hatinya enjoy dan tenang dengan urusan duniawi tetapi ia lupa dengan urusan-urusan akhiratnya.

Aib-aibnya oleh Allah ditutupi. Padahal itu terkadang adalah cara Allah untuk mengujinya, sejauh mana ia sadar diri dan segera berubah. Tetapi, ada orang yang segera cepat berubah, segera kembali ke jalan Allah, ia beribadah, ia beramal saleh, ia selalu menolong dan membantu saudaranya yang membutuhkannya. Ada juga yang justru sebaliknya. Orang yang sebaliknya inilah yang dinamakan mustadrij, atau prilakunya dinamakan istidraj. Wallahu A’lam.

*Khadim Pesantren AL-AULA Kombangan Bangkalan Madura

(Tulisan ini ditayangkan dan dikutip dari https://tebuireng.online/istidraj/)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *