Sab. Sep 21st, 2019

resonansi.id

News and Life Style

Jabat Ketua RT, Rumah Raniman di Cikeusik Rusak Berat & Nyaris Roboh


Warning: in_array() expects parameter 2 to be array, null given in /home/resonans/public_html/wp-content/plugins/easy-watermark/src/classes/Features/SrcsetFilter.php on line 174
2 min read

Warning: in_array() expects parameter 2 to be array, null given in /home/resonans/public_html/wp-content/plugins/easy-watermark/src/classes/Features/SrcsetFilter.php on line 174

Ketua RT, Raniman menunjukkan rumahnya yang disangga tiang. (foto; Hidayataul Fajri)


Warning: in_array() expects parameter 2 to be array, null given in /home/resonans/public_html/wp-content/plugins/easy-watermark/src/classes/Features/SrcsetFilter.php on line 174

RESONANSI.id – Tinggal dirumah yang layak dan sehat masih menjadi mimpi bagi Raniman, Ketua RT 01 RW 04 Kampung Margasari, Desa Curug Ciung, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten  Pandeglang . Soalnya, kediaman Raniman yang telah duhinunya 30 tahun terakhir ini bersama keluarganya berupa gubuk yang sudah reot serta tidak berdiri tegak lagi.

Raniman setahun lalu dilantik sebagai ketua RT dan kesehariannya adalah buruh tani. Ia bersama keluarganya tetap bertahan dirumah yang tak layak huni ini lantaran tidak mempunyai biaya. Kondisi rumah sangat memperhatikan karena bilik rumah sudah usang dan banyak yang bolong serta sisi rumahnya harus disangga menggunakan kayu karena nyaris roboh.

Raniman mengaku sudah hampir 3 kali mengusulkan bantuan rehab rumah ke pihak desa agar mendapat bantuan sosial dari pemerintah, namun kenyataannya hingga kini belum sama sekali mendapatkan bantuan. “Di kampung kami ada 18 yang rusak dan rumah saya paling parah. Lihat saja bagian samping sudah disangga  dan kalau dibuka ya rumah saya pasti roboh.  Saya sudah coba minta bantuan ke desa cuma ada jawaban dari pak lurah belum keluar bantuannya,” ujar Raniman, Kamis (13/6/2019).

Rumah Ketua RT Raniman tampak rusak bagian depan. (foto :Hidayatul Fajri)

Lebih lanjut ia mengatakan, selama ini ia beserta istrinya mengandalkan pekerjaan sebagai buruh tani sebagai penopang kehidupannya, namun itu pun hanya pada saat musim cocok tanam atau musim panen tiba.

“Saya belum pernah mendapatkan bantuan apapun, Raskin juga saya cuman dikasih dari yang dapat jatah karena kalau saya tidak masuk dalam data. Paling kalau ada yang nyuruh kuli ya saya kerja tapi kalau ga ada yang nyuruh saya nganggur,” katanya.

Masih kata Raniman, ia memiliki 2 orang anak, yang masih bersamanya, anak pertamanya sudah bekerja, namun belum bisa membantu Raniman karena hanya bisa mencukupi kebutuhan anaknya, sedangkan anak keduanya masih bersekolah di salah satu sekolah yang ada di kampungnya.

“Ya harapannya mendapatkan bantuan, walaupun tidak membangun baru setidaknya ada buat rehab. Ya takut tidak takut akhirnya cuman mau diapain, tapi kalau ada hujan disertai angin besar dan ada gempa bumi saya ngungsi dulu ke rumah tetangga atau kerabat soalnya takut roboh,” ujarnya dengan raut sedih.

Salah seorang tetangga, Sukri membenarkan hal tersebut. Menurutnya, selama ini Raniman tidak pernah mendapatkan bantuan sosial apapun dari pemerintah. Sebagai tetangga, ia mengaku sangat prihatin serta berharap ada bantuan siapa saja yang untuk membantu tetangganya tersebut.

“Kasihan lihat kondisi rumahnya, lantai dapurnya aja dari tanah, terus lantai rumahnya dari papan itu juga sudah pada bolong. Sebagai tetangga saya berharap beliau dapat bantuan, ya minimal buat rehab,” jelasnya. (Faz/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kategori