Rab. Jun 19th, 2019

Membaca Realitas Kepemimpinan Politik Pandeglang; dari Fenomena Sosial Media menjadi Gerakan Konstruksi Sosial

Oleh : Eman Sulaeman *

Tulisan Rudi Yana Jaya berjudul “Calon Bupati Alternatif” Kabupaten Pandeglang di portal berita resonansi.id berjudul “Calon Bupati Alternatif” menjadi menarik untuk kita kaji lebih dalam.

Pendalaman disini Penulis maksud sebagai upaya “internalisasi” atas fenomena sosial-politik yang berkembang belakangan ini – mulai menggeliat pasca bencana Tsunami Selat Sunda – setelah berbagai kritik atas upaya Pemkab dalam bencana Tsunami, menjadi semakin “memanas” pada medio Maret 2019; beranda sosial media masyarakat diwarnai kritik terhadap kepemimpinan politik Pandeglang, seperti kasus warga yang tandu orang sakit karena jalan rusak, “Prado” kendaraan dinas baru Bupati seharga Rp. 1,9 Milyar, hingga wacana pergantian kepemimpinan politik menjelang Pilkada 2020 yang mulai marak dibicarakan di WAG, Facebook, media massa, dan kanal sosmed lainnya.

Melalui tulisan ini, Penulis sebagai warga Pandeglang mengajak khalayak melakukan “internalisasi” atas fenomena tersebut diatas, agar dapat menangkap realitas objektif yang diharapkan menjadi landasan kesadaran politik kita sebagai warga negara.

Mengapa hal ini menjadi penting ?
Pesta demokrasi baru saja usai, berkaca pada perhelatan politik yang telah berlalu kita tentu masih merasakan bagaimana euphoria politik masyarakat dalam menyikapi hal mengenai kepemimpinan politik menjadi penting dan “di-internalisasi” oleh tiap individu para pendukungnya menjadi nilai, panduan dalam peri-kehidupan bernegara yang – seakan akan – memunculkan “pertarungan ideologi”, pada kenyataannya liberalisasi politik dalam demokrasi prosedural ini masih berjarak dengan kesadaran politik masyarakatnya.

Dapat dilihat dari masih maraknya “politik uang” yang semakin mengawetkan kosongnya kesadaran kritis masyarakat. Diluar hal itu, fenomena euphoria politik saat ini menjadi titik tolak yang penting untuk membangun kesadaran kritis masyarakat sebagai proses membangun konstruksi sosial yang progressif.

Pilkada tahun 2020 yang akan dihadapi warga Pandeglang dan fenomena euphoria politik yang mulai menjamur saat ini harus menjadi “modal awal” bagi kita semua yang merasa berada dalam “ceruk warga sadar politik” untuk menjadikannya sebagai proses mengisi, memajukan, kesadaran politik masyarakat Pandeglang. Jika kita semua secara sadar meng-amini realitas kepemimpinan politik saat ini tidak pro-rakyat, realitas seperti apa yang membuatnya tidak pro-rakyat ? harus seperti apa penggantinya ? apa saja perubahan yang harus dilakukan oleh sosok pengganti ? bagaimana dengan kemungkinan “keluar dari mulut harimau masuk ke mulut buaya” ? pertanyaaan-pertanyaan seperti ini yang dapat memberikan asupan bagi kesadaran politik masyarakat, atas dasar hal itulah mengapa menjadi penting dibicarakan, dikaji dan di publish sebagai bagian dari upaya kita bersama dalam proses menuju konstruksi sosial masyarakat Pandeglang yang progresif.

Konstruksi Sosial; Teori dan Pergerakan
Konstruksi sosial merupakan teori sosiologi kontemporer yang dicetuskan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Menurut Berger Konstruksi sosial atas realitas sosial (Social Construction of Reality) didefinisikan sebagai proses sosial melalui tindakan dan interaksi dimana individu atau sekelompok individu, menciptakan secara terus-menerus suatu realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subjektif.

Teori ini berakar pada paradigma konstruktivis yang melihat realitas sosial sebagai konstruksi sosial yang diciptakan oleh individu, yang merupakan manusia bebas. Individu menjadi penentu dalam dunia sosial yang dikonstruksi berdasarkan kehendaknya, yang dalam banyak hal memiliki kebebasan untuk bertindak di luar batas kontrol struktur dan pranata sosialnya. Dalam proses sosial, manusia dipandang sebagai pencipta realitas sosial yang relatif bebas di dalam dunia sosialnya.

Dari teorinya Berger kita dapatkan pengetahuan bahwa setiap individu warga Pandeglang dapat membangun upaya perubahan jika secara terus menerus meng-eksternalisasi (mencurahkan,ekspresi) atas realitas yang dialami, dilihat, dirasakannya sendiri (realitas subjektif). Bentuk eksternalisasi, pencurahan, ekspresi tiap warga tersebut akan menjadi realitas sosial simbolik yang dapat dituangkan dalam berbagai hal seperti; cuitan twitter, status Facebook, tulisan media massa, vandalism, dan lain-lain.

Mungkin Anda dapat menyanggah hal ini karena menganggap kecil kemungkinan perubahan sosial hanya berdasar sosmed, tapi bukankah hari ini faktanya interaksi sosial dan saluran informasi menjadi sangat cepat melalui genggaman ponsel ?.

Fenomena arus kritisme masyarakat yang mulai marak hari ini tentu tidak lepas dari peran media massa dan kalangan organisasi masyarakat sipil sebagai variabel penting dari konstruksi realitas sosial, karena itulah diharapkan media massa dapat membangun upaya simultan dalam dialektika arus kritisme masyarakat. Sebagai pilar demokrasi, media massa dapat berperan menggiring arus kritis masyarakat dengan cara menciptakan momen dialektis; eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi, artinya ada proses menarik keluar (eksternalisasi) sehingga seakan-akan hal itu berada di luar (objektif) dan kemudian terdapat proses penarikan kembali ke dalam (internalisasi) sehingga sesuatu yang berada di luar tersebut seakan-akan berada dalam diri atau kenyataan subyektif. Jika dialektika tersebut dilakukan oleh banyak kalangan (media massa, organisasi masyarakat sipil, dll) arus kritisme masyarakat tidak hanya menjadi euphoria semata, tetapi akan menjadi gemuruh massa yang secara sadar ingin melakukan perubahan di kota Badak ini.

Pandeglang Baru; Utopis atau Peluang
Realitas sosial simbolik mengenai keinginan adanya perubahan di Pandeglang yang mulai ramai ini memang dapat berakhir hanya semata euphoria, dan harapan-harapan mengenai perubahan menjadi utopis. Untuk itulah pentingnya membangun proses dialektis eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi atas realitas sosial-politik saat ini, sehingga ketika kita mengatakan kepempinan politik saat ini tidak pro-rakyat, segenap rakyat mengetahuinya secara sadar kenapa dan apa saja penyebabnya, lalu tindakan politik seperti apa yang mesti dilakukannya.

Meraba atas wacana pemimpin alternatif Bupati Pandeglang yang mulai marak muncul saat ini masih dominannya wajah lama, disisi lain ada rasa kebanggan akan kemunculan wajah-wajah baru yang telah berani menyatakan diri siap mengikuti konstestasi dalam Pilkada 2020 akan datang. Subjektifitas Penulis, pilihan terbaik adalah sosok wajah baru, anak muda, berani mendobrak pranata politik lama, peluang itu ada dan masih terbuka. Penulis berharap, masyarakat Pandeglang pada 2020 akan datang dapat memberikan mandate politiknya pada PEMUDA untuk PANDEGLANG BARU.

Perubahan yang dikawal Pemuda adalah semangat dari kebijaksanaan orang-tua, cita-cita anak kecil, dan ketulusan dari bayi yang baru lahir. Pemuda adalah penghubung dari berbagai kenyataan sejarah. Pemuda adalah Pikiran-Bertindak !

* Tanggapan atas tulisan Bpk. Rudi Yana Jaya dalam Resonansi.id 09/06/2019 “Calon Bupati Alternatif”

*Penulis adalah warga Komplek Saruni Permai, Majasari, Aktif sebagai Penggerak Koperasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *