Jum. Mar 22nd, 2019

Mendikbud Hadiri Gerakan Sumbang Boneka & Mainan untuk Korban Bencana Selat Sunda di SDN Kadumerak 1

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendi di SDN Kadumerak Pandeglang.

RESONANSI.ID – Klinik Digital Vokasi Komunikasi (Vokom) UI bekerjasama dengan lebih dari 15 organisasi masyarakat seperti Koalisi Anak Madani Indonesia (KAMI), Jefri Nichol Fans Club, LPAI, Sahabat Yatim Indonesia, Kementerian Sosial, Saya Sahabat Anak, SMA 35 Jakarta, Alumni SMA 35 Jakarta, dll menyerahkan sumbangan boneka dan mainan anak kepada anak korban bencana di Banten serta 50-an Paud dan TK se-Banten dan salah satunya berlokasi di SDN Kadumerak 01 Pandeglang pada Minggu (10/2/2019).

Hadir pula dalam kegiatan ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendi yang turut memberikan semangat agar anak-anak yang terdampak maupun tidak terdampak tsunami semangat belajar. “Diantara yang terdampak dari tsunami itukan ada anak-anak PAUD, TK, dan SD yang masih awal, mereka itu mudah stress mereka mudah trauma makanya harus segera di obati dan dipulihkan kembali,” kata Menteri yang berkesempatan menghibur para siswa.
Sayangnya, dalam kegiatan gerakan 1 juta boneka ini tidak tampak Bupati maupun wakil Bupati Pandeglang serta Kepala Dinas Pendidikan setempat. Namun Asisten daerah II Undang Suhendar, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Anak (DPA2KBP3A) Kabupaten Pandeglang, Didi Mulyadi dan Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pandeglang, Ahmad Jaya tampak hadir.
Sementara itu Kak Seto menyatakan aksi ini sangat luarbiasa. Katanya ia mendukung 1000% atas donasi boneka/mainan baru. “Saya bangga kepada anak-anak Indonesia yang saya tahu juga menitipkan surat Cinta dibulan cinta ini,” papar Kak Seto Tokoh International Perlindungan Anak dan Pengagas #SayaSahabatAnak dalam siaran persnya.

Gerakan 1 juta ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa anak-anak korban bencana mendapatkan perhatian terkait penguatan psikologi mereka untuk menghadapi kehidupan pasca bencana. Bantuan pertama akan kami tujukan bagi anak-anak korban Tsunami di Selat Sunda.

“Boneka sejak 1000 tahun sebelum masehi memang sudah dikenal sebagai teman bermain tertua bagi anak. Boneka mampu menjadi cermin dari sang anak dan mampu membantu anak untuk dapar memahami dirinya dan lingkungan. Dalam sebuah studi di Amerika Serikat, ketika beberapa anak merawat boneka yang dianggapnya sebagai ‘teman’ yang perlu diperhatikan, maka perilaku tersebut telah membantu anak untuk mengalihkan kesedihan dan trauma yang dialaminya kepada boneka dengan metoda merawat boneka miliknya. Aktivitas anak dengan boneka tersebut terbukti mampu mengurangi tingkat stress yang dirasakan oleh anak seperti ketakutan akan kehilangan keluarga; agresi; ketegangan; reaksi yang kuat terhadap gangguan suara; menangis dengan kuat; mimpi yangmenakutkan dan gangguan tidur,” ujar Devie Rahmawati, Founder Klinik Digital Vokom UI.
“Dalam riset yang berbeda, mainan seperti boneka, terbukti membantu anak menghapus trauma yang ada dirasakan oleh anak. Mengingat anak-anak sangat sensitif secara indrawi. Boneka dan mainan yang dapat secara langsung disentuh, diraba dan direngkuh oleh anak, membantu anak untuk melepaskan trauma dari tubuh anak. Beberapa mainan dengan bahan yang lembut banyak yang didesain untuk membantu anak membangun kisah mereka sendiri, sebagai cara mereka untuk memiliki kisah pengingat kebaikan dan hal positif untuk melupakan segala kepenatan hidup yang dialami oleh anak,” tambah Devie Rahmawati, Ketua Program Studi Vokasi Komunikasi UI.
“Kolaborasi dengan berbagai organisasi kemasyarakatan yang peduli dengan anak Indonesia menjadi langkah awal dari gerakan masif untuk terus menggalang bantuan boneka yang tidak hanya berhenti pada korban Selat Sunda. Gerakan ini akan terus digaungkan ke seluruh Indonesia, dimana posko pengumpulan akan tersebar di berbagai provinsi, dalam upaya mengantisipasi potensi bencana. Diharapkan, logistik bantuan boneka dan mainan anak ini siap disebarkan kapanpun dan dimanapun,” imbuh kak Hoky bersama Kak AruL, Alm Prof Sarlito, Kak Seto, Dewi Motik, Ary Ginanjar pendiri KAMI.

“Boneka dan mainan anak merupakan pendekatan yang menyediakan ruang untuk anak merekonstruksi trauma yang dialami. Ketika seorang anak tidak mampu mengungkapkan kegelisahan yang dialami, melalui mainan, mereka dapat berkomunikasi dengan orang lain, menggunakan bahasa yang menyenangkan untuk mentransfer kegelisahan mereka. Pengalaman komunikasi non verbal dan mainan yang secara indrawi dapat disentuh, digenggam bahkan dipeluk oleh anak, dapat menjadi “pengganti’ kehadiran fisik orang dewasa yang seharusnya berada bersama anak untuk mendekap mereka, memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak. Karakter mainan yang multiguna karena mampu menjadi alat rekreasi, edukasi sekaligus terapi bagi anaklah yang mendorong banyak organisasi mendukung kegiatan ini. Kami sangat mengharapkan masyarakat dari seluruh kalangan dapat terus berpartisipasi,” tutup Devie Rahmawati, yang juga menjadi pengurus KAMI di divisi komunikasi.(Yul/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *