Ming. Sep 22nd, 2019

resonansi.id

News and Life Style

Politik Dinasti Dimyati

4 min read

Warning: in_array() expects parameter 2 to be array, null given in /home/resonans/public_html/wp-content/plugins/easy-watermark/src/classes/Features/SrcsetFilter.php on line 174

Oleh : Yudistira

Politik Dinasti merupakan sistem reproduksi kekuasaan yang primitif karena mengandalkan darah dan keturunan dari hanya bebarapa orang. Oleh karena itu dalam dinasti tidak ada politik karena peran publik sama sekali tidak dipertimbangkan. Dengan itu, dinasti juga menjadi musuh demokrasi karena dalam demokrasi rakyat lah yang memilih para pemimpinnya. Jadi, politik dinasti adalah proses mengarahkan regenerasi kekuasaan bagi kepentingan golongan tertentu (contohnya keluarga elite) untuk bertujuan mendapatkan atau mempertahankan kekuasaan disuatu negara.

Dinasti Politik banyak dibangun di beberapa daerah di Indonesia. Dinasti Politik merupakan kekuasaan yang dipegang secara turun-temurun dalam satu garis keturunan atau kerabat dekat. Hal ini ditandai dengan tersebarnya jejaring kekuasaan melalui trah politik pendahulunya dengan cara penunjukan anak, istri, paman, dan semacamnya untuk menduduki pos-pos strategis dalam partai (lembaga) politik.

Biasanya ini adalah cara agar sanak family tersebut bisa dengan mudah meraih jabatan publik baik sebagai bupati/wakil bupati (eksekutif) maupun sebagai anggota perwakilan rakyat/DPRD. Hal ini dapat menghambat sistem demokrasi karena tidak memberikan peluang bagi masyarakat luas untuk ikut serta dalam proses politik. Dinasti Politik di daerah dapat dilihat dari hubungan antara aktor-aktor dalam struktur politik, yang mana terdapat hubungan keluarga diantara mereka. Suprastruktur yaitu walikota sebagai lembaga eksekutif yang juga didukung oleh suami beserta putranya dengan menduduki jabatan-jabatan dalam infrastruktur.

Jika sudah terbangunnya politik dinasti, maka digunakanlah segala cara demi mempertahankan dinasti tersebut dalam dinamika politik. Merujuk paparan James Scott, mengenai “Patron-Client Politics and Political Change in Shoutheast Asia” ihwal bagaimana ikatan patron-klien ala dinasti politik lokal tumbuh subur di Asia Tenggara. Tidak saja menjadi suatu karakter kultural, model ikatan sosial itu mencoba bertransformasi dan mempertahankan diri mengikuti perubahan sosial. Termasuk dalam mekanisme baru, yakni politik elektoral atau pilkada.

Orde baru runtuh, demokrasi tumbuh. Namun, Politik dinasti seolah-seolah menjadi parasit yang mengganggu kesehatan demokrasi bangsa. Skandal Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme pun muncul pada daerah-daerah akibat politik dinasti. Kita masih ingat dengan sosok Atut Choisyiah, bekas Gubernur Banten dan terpidana kasus korupsi. Keluarganya selama satu dekade melanggengkan dinasti politik yang kuat di Banten. Pada pilkada 2017, Andika Hazrumhy yaitu anak dari Atut sendiri, berhasil menjadi Wakil Gubernur Banten setelah bertarung melawan Rano Karno – Mulya Syarief.

Achmad Dimyati Natakusumah, merupakan seorang politikus Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Ketua MPR RI dari 4 Juli 2014 hingga 1 Oktober 2014 menggantikan Lukman Hakim Saifuddin yang dipilih menjadi Menteri Agama, Dimyati juga pernah menjabat sebagai Bupati Pandeglang 2 periode pada tahun 2000 sampai 2009, lalu di gantikan oleh Erwan, sejak istrinya Irna Narulita menjabat bupati sebuah buktinya Dinasti yang ia bangun dari masa jabatan ia sebelum nya menduduki Orang no 1 di Pandeglang, lalu pada pertarungan demokrasi ia bertujuan melanggengkan kekuasaan nya,
terlihat di daerah pemilihan Banten 1, klan Natakusumah mencalonkan 4 nama untuk bertarung merebutkan kursi DPR.

Natakusumah merupakan nama belakang untuk setiap keturunan Achmad Dimyati Natakusumah dan Bupati Pandeglang Irna Narulita. Dimyati mantan bupati Pandeglang, dulu politikus PPP, kini loncat ke PKS. Achmad Dimyati Natakusumah sendiri maju di Dapil 1 Banten dari PKS. Anak perempuannya Rizka Amalia R Natakusumah juga maju di dapil sama dari partai NasDem nomor urut 1. Anak keduanya, Rizki Aulia Rahman Natakusumah juga maju tapi dari Partai Demokrat nomor urut 2 untuk dapil yang sama. Ketiganya, bertarung di dapil yang sama yang merupakan basis pemilih untuk Pandeglang-Lebak Dapil 1 Banten, Dimyati juga menjajal anaknya yang lain untuk Dapil 2 Serang-Cilegon yaitu Risya Azzahra Rahimah Natakusumah maju dari partai NasDem dari nomor urut 5. Sudah nampak jelas bahwa keluarga dimyati ingin merebut sekaligus melanggengkan kekuasaannya.
Partai politik pun menjadi salah satu sarana paling aktif untuk bisa mengendalikan politik dinasti. Minimnya kaderisasi di partai politik menjadi cikal bakal bertumbuhnya politik dinasti.

Undang-Undang Nomor 2 tahun 2011 tentang Partai Politik, Pasal 29 ayat 2, sudah jelas mengatakan, rekrutmen terhadap bakal calon kepala daerah dan wakil kepala daerah dilakukan oleh partai politik terhadap warga negara Indonesia secara demokratis dan terbuka. Partai politik selayaknya menjalankan pola rekrutmen dengan berbasis kaderisasi, demokratis dan terbuka agar dapat menghasilkan calon pemimpin yang melalui tahapan yang selektif bukan berdasarkan kekerabatan semata dan karena faktor kekuatan finansial.

Jika pada pertarungan kekuasaan ini di menangkan Oleh klan dimyati maka ada potensi abuse of power dalam dinasti yang akan menimbulkan korupsi yang diikuti oleh kolusi dan nepotisme. Hal ini sinkron dengan teori Lord Acton bahwa Absolutely power tends to corrupt.

Pada prakteknya, politk dinasti cenderung melanggengkan KKN, sehingga upaya mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik sulit tercapai. Fenomena politik dinasti memang merupakan konsekuensi dari demokrasi. Namun jika politik dinasti terus dibiarkan, bukan hanya mencederai upaya membangun budaya antikorupsi, tetapi kontestasi politik dalam pemilu akan menjadi semu karena dinasti politik yang ikut dalam pemilu dapat menggunakan dengan mudah semua sumber daya publik yang mereka kuasai. Maka akan semakin maraknya praktek korupsi Serta penyalahgunaan anggaran yang di mementingkan kelompoknya atau keluarganya. (Penulis adalah Mahasiswa UNMA Banten, Ketua LMND Eksekutif Pandeglang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kategori