Warning: array_unshift() expects parameter 1 to be array, null given in /home/resonans/public_html/wp-content/plugins/og/vendor/iworks/opengraph.php on line 432
Kam. Mei 23rd, 2019

Mengungkap Sejarah Masjid Tua Gunung Karang

RESONANSI.id- Bercerita Sejarah Islam di Banten tak terlepas dengan Masjid Tua yang ada di kaki Gunung Karang, Tepatnya di Kampung Pasir Angin Kelurahan Pagerbatu Kecamatan Majasari Kabupaten Pandeglang.

Masjid yang berukuran kurang lebih 13×10 meter dengan kontruksi bangunan kayu tetap berdiri kokoh hingga saat ini. Bangunan masjid ini memiliki tiga pintu samping (Kiri dan kanan) serta jendela dengan bentuk persegi yang ditutupi tralis kayu. Dibagian depan terdapat pintu masuk dengan lebar kurang lebih 4 meter.

Sedangkan atap masjid memiliki ciri berundak terdapat ornamen terbuat dari gerabah, lantai yang beralas papan kayu dan terdapat kolong dibawahnya serta tangga (golodog), jika dilihat secara seksama bangunan masjid ini pada awalnya mirip dengan rumah panggung khas sunda mempunyai atap dengan bentuk seperti sayap burung yang sedang digunakan untuk terbang. Jadi, ada lekukan yang membentuk sayap dan puncak atap rumah membentuk badan burungnya.

Dibagian dalam terdapat beberapa tiang penyangga yang terbuat dari kayu,  dua ruang yang menghadap kiblat, satu untuk imam sholat dan satu lubang untuk iman khutbah.

Menurut bapak Busro salah satu penjaga masjid, bangunan ini tidak ada yang mengetahui kapan dibangunnya, bahkan sejak beliau lahir pada tahun 1949, bangunan masjid ini sudah ada sejak lama, namun tidak ada satupun warga yang bisa menjelaskan kapan dibangunnya.

Menurutnya Masjid yang ada saat ini merupakan salah satu peninggalan syeh Karan, beliau merupakan wali sekaligus guru ulama jaman dulu di wilayah Banten yang paling tua.

“Untuk mengetahui secara pasti kapan masjid ini dibangun bisa langsung menanyakan kepada para ulama yang ada di Banten, mereka pasti mengetahuinya, kalau saya baru kata orang lain, ilmunya terbatas,” Tuturnya

Beliau juga menceritakan para ulama yang ada di Banten sering kali datang ke masjid ini setiap tahunnya,  terkadang juga pada bulan bulan tertentu. Bahkan adapula masyarakat lain diluar daerah yang sengaja untuk mengetahui serta sekaligus ziarah ke makam penyebar Islam Banten ini.

Adapun penamaan masjid ‘Baitul Arsyi’, menurutnya diambil dari Arab bisa diartikan ‘tempat ibadah di puncak/diatas’, hal ini juga tentunya sesuai dengan toponomi karena daerah ini termasuk didaratan tinggi diantara wilayah lainnya yang ada di Kabupaten Pandeglang.

Makam syeh Karan dan Syeh Rako
Kurang lebih 800 meter dari masjid tersebut, terdapat makam keramat yang sering didatangi oleh para ziarah kubur dari berbagai kota, diantaranya yaitu makan syeh Karan dan makam syeh Rako.

Makam syeh Karan letak disebelah barat dari makam syeh Rako. Kedua makam tersebut merupakan tempat disemayamkannya waliyullah Syeh Karan dan Syeh Rako.

Menurut Jaka salah satu warga menjelaskan Syeh Karan merupakan salah satu pendiri pesantren tertua di Banten yang ada di wilayah tersebut, Syeh Karan merupakan Waliyullah yang sekaligus penyebar Islam pada masa kolonial Belanda.

Jaka menabahkan syeh Karan ini merupakan salah satu penyebaran islam melalui kegiatan syalafiah dimana pendidikan islam dilakukan melalui dakwah kepada para santri serta masyarakat setempat. Walaupun tentunya banyak yang dilakukan ulama terdahulu dalam penyebaran islam baik melalui perkawinan, politik dan sebagainya.

Beliau juga menceritakan tentang menantunya syeh Karan yaitu Syeh Rako, salah satu ulama penerus dalam melakukan syiar  islam diwilayah tersebut. Oleh sebab itu menurutnya kedua makam tersebut berdampingan yang tidak jauh lokasinya diantara keduanya. (GG/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *