Jum. Mar 22nd, 2019

Situs Cagar Budaya Batu Tumbung Minim Pengunjung

RESONANSI.id-  Situs Batu Bergores Monolit Megalitik Cideresi Desa Baturanjang Kecamatan Cipeucang, Pandeglang, merupakan situs peninggalan budaya yang minim dikunjungi pelajar dan mahasiswa sekitar wilayah Pandeglang.

Menurut Juhanda (Juru Pelihara) Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten mengungkapkan dalam setahun tercatat kurang lebih 80-100 orang yang datang ke tempat ini. Sebagian besar pengunjung yang sering datang ke tempat tersebut mahasiswa luar kota seperti dari kampus Jakarta, Bandung, Cirebon, Lampung dan daerah lainnya, sedangkan mahasiwa lokal masih terhitung jari datang kesini. saat diwawancara resonansi.id, Senin, 18/02/2019.

“Saya juga heran kenapa yang datang kesini kebanyakan orang luar, sedangkan mahasiswa lokal malah sedikit,” tuturnya.

Juhanda menambahkan situs batu Cideresi, memang kurang menarik para wisatawan lokal. Hal ini dikarenakan karena akses jalan menuju lokasi lumayan sulit dan tidak ada tambahan objek wisata lain seperti halnya Situs Cihunjuran dan Situs Citaman yang memiliki kolam untuk berenang.

“Disinimah hanya ada batu tumbung saja, selain itu paling batu korsi, jadi tidak ada yang lain lagi yang bisa dinikmati, paling geh anak kecil kalau hari minggu suka mandi di sungai, kecuali wisatawan yang dari luar, mereka sangat antusias dan banyak nanya nanya,” tuturnya.

Juhanda mengungkapkan pentingnya bagi mahasiswa atau pelajar untuk mengetahui Situs Batu Tumbung, karena sebagai pelajaran sejarah pada masa silam. “Warisan budaya harus diingat dan dimaknai sebagai bahan ilmu pengetahuan dan bukan untuk disembah atau ritual tertentu yang bisa menyestakan atau kemusyrikan,” tuturnya.

Juhanda berharap kedepan situs batu ini bisa populer dan banyak pengunjungnya bahkan adanya pengembangan objek wisata lainnya misalnya tempat selfi, renang, papalidan atau pengembangan wisata lainnya oleh Dinas Pariwisata yang bekerjasama dengan Balai Cagar Budaya Banten.

Lain halnya dengan Rizal Wahid Pendamping lokal desa Cipeucang mengungapkan banyaknya situs batuan yang ada diwilayahnya merupakan salah satu nilai tersendiri bagi desa, hal ini bisa menjadi tempat wisata budaya apabila dikelola dengan baik oleh desa.

Rizal menambahkan selama ini desa belum melihat ke arah sana, kekhawatiran desa malah terkadang kewenangan desa dapat berbenturan dengan kewenangan diatasnya. Padahal jika duduk bersama dan adanya keinginan untuk memajukan desa bisa saja mengkomunikasikan agar adanya keselarasan antar kewenangan diatasnya.

“Misalnnya saja untuk mengembangkan wisata budaya situs Cidaresi harus bekerjasama dengan Balai Cagar Budaya mana yang bisa digarap desa, dan mana yang bisa digarap provinsi,agar adanya keselarasan program yang tidak berbenturan dengan aturan” tuturnya

“selama ini saya sudah mencoba mengkomunikasikan dengan desa, bahkan kemarin kita masukan ke program Inovasi Desa, namun sejauh ini belum ada tindaklanjutnya dari desa tersebut,” tuturnya. (GG/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *