Kam. Mei 23rd, 2019

Viral Kotak Suara Pilpres Dibiarkan Terbuka di Desa Kalanganyar-Labuan

foto ilustrasi kotak suara

RESONANSI.ID – Sebuah video yang menunjukan kotak suara terbuka di Desa Kalang Anyar, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang viral di media sosial maupun grup WhatsApp pada Senin (22/4/2019).

Video berdurasi dua menit sepuluh detik itu, menunjukan puluhan kotak suara terbuka di kantor Desa Kalang Anyar. Dalam video yang diambil oleh seseorang sambil bercerita, menunjukan beberapa orang sedang duduk di depan puluhan kotak suara. Selain itu, ada juga aparat Kepolisian sedang berjaga di depan kantor desa.

“Telah terjadi pembukaan kotak suara, dimana tidak ada saksi. Kotak suara presiden terbuka,” sepenggal kata dari seseorang dalam video tersebut.

Koordinator Divisi Penindakan Pelanggaran Bawaslu Pandeglang, Fauzi Ilham membenarkan adanya video tersebut. Saat ini, Bawaslu kata Fauzi masih melakukan pendalaman informasi terbukanya kotak suara yang terbuka.

“Iya ini sedang didalami oleh Bawaslu, dengan Panwascam. Banyak hampir satu desa,” kata Fauzi saat dihubungi melalui telpon genggamnya, Senin (22/4/2019).

Menurut Fauzi, kotak suara tersebut di buka oleh Panitia Pemungutan Suara (PPS). Kata Dia, pembukaan kotak suara tersebut belum masuk pada rekapan penghitungan suara.

“Ini mah ngebuka kotak aja, belum masuk pada persoalan rekap. Ini mah membuka kotak, memindahkan ini, salah penempatan distribusi logistik. Tapi kita sedang mendalami,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua KPU Pandeglang Ahmad Sujai mengatakan sudah mendengar informasi adanya video terbukanya sejumlah kotak suara Pilpres di Desa Kalanganyar. “Kami sudah terima laporan dan masalahnya sudah clear. Faktanya beda dengan dilapangan,” kata Sujai.

Menurut Sujai, terbukanya kotak suara Pilpres di Desa Kalanganyar murni akibat human error petugas KPPS. Berdasarkan hasil investigasi KPU Pandeglang diketahui bahwa petugas KPPS memang sempat membuka kotak suara karena ada dokumen yang termasukan ke dalam kotak suara pasca rekapitulasi yakni model C dan C1.

”KPPS berkewajiban menyampikan model C dan C1 hologram yang ada dalam kotak untuk diplenokan di PPK serta salinan model C dan C1 ke PPS untuk dipublikasikan dan ke KPU untuk kepentingan scaner. Saat akan diumumkan lupa termasukan ke kotak suara dan diambil lagi dan lupa mengkunci kembali, petugas langsung tertidur karena kecapekan. Kemudian ada orang yang ke desa, kami tidak tahu pihak mana yang datang dan memvideokan,” beber Sujai.

Masalah ini menurutnya  sudah diketahui pihak kepolisian dan Panwaslu Labuan dan diclearkan. “Karena kecepatan video lebih cepat dari fakta sebenarnya maka beragam cerita muncul. Kami tegaskan tidak ada niat jahat karena semuanya manusiawai. Penyelenggara dibawah ceroboh dan tidak ada niatan untuk melakukan kejahatan,” terangnya.

Masih kata Sujai, kalau seseorang mau melakukan kejahatan pasti tida sudah menyusun rapi rencananya misalnya kalau sudah dibuka pasti dikunci lagi. “Tapi karena memang tidak ada niatan melakukan kejahatan maka masalah ini sudah clear,” tegasnya. (Faz/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *